2007/12/02

Kabar dari Rakernas-3

Meneg BUMN Sofyan Djalil
'Hidayatullah harus Berperan Kuatkan Ekonomi Umat

Samarinda (1/12) - Menteri Negara BUMN Dr Sofyan Djalil berharap Ormas Hidayatullah berperan mendorong terbentuknya kekuatan ekonomi baru Umat Islam di Indonesia.

‘’Harapan itu bukannya tanpa harapan, mengingat sekitar 85% total penduduk Indonesia adalah Umat Islam, namun mayoritas kekuatan ekonomi masih dipegang non-muslim. Namun, setelah melihat perkembangan organisasi masyarakat Hidayatullah yang ketika berdiri masih nol, kini berkembang dengan begitu cepat yang tidak lepas dari pendiri Hidayatullah Almarhum Ustadz H Abdullah Said yang dengan kekuatan idenya berhasil memajukan Hidayatullah, maka Organisasi ini bisa tumbuh dengan pesat, bukan terbatas di bidang dakwah, dan pendidikan, tetapi juga akan mampu berperan mendorong kekuatan ekonomi baru Umat Islam, tidak terbatas untuk anggota Hidayatullah, tetapi juga seluruh Umat Islam di Indonesia,’’ kata Dr Sofyan Djalil, ketika mewakili Wakil Presiden Muhammad Yusuf Kalla membuka Rapat Kerja Nasional Ke-3 2007 Ormas Hidayatullah di Kampus Pesantren Hidayatulah Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu.

Rakernas yang berlangsung sampai tanggal 3 Desember 2007 dan akan ditutup Menteri Negara Koperasi dan UKM Drs Suryadharma Ali itu antara lain membahas masalah-masalah ekonomi, dakwah, pengkaderan dan pendidikan.

Rapat Kerja Nasional diikuti sekitar 600 peserta dari 33 anggota Dewan Pimpinan Wilayah, 285 Dewan Pimpinan Daerah tingkat Kabupaten/Kota dari 33 Propinsi seluruh Indonesia. Rakernas diawali dengan Peresmian Masjid al-Iman Pesantren Hidayatullah Samarinda oleh Walikota Samarinda, bersama Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Abdul Manaan, MM dan Sekretaris Pemprov Kaltim Syaiful Teteng.

Sofyan Djalil menggaris bawahi, pelaksanaan dakwah, tanpa diikuti dengan kekuatan ekonomi akan sulit dilakukan. ‘’Nah, bila Hidayatullah mampu mendorong kekuatan ekonomi para anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia, pada gilirannya akan memberikan efek spiral kepada Umat Islam lainnya yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.

Agar kekuatan ekonomi itu bisa dilakukan, Sofyan Djalil memberikan resep agar anggota Hidayatullah melakukan bisnis dalam skala kecil dulu. ’’Mulailah dengan modal antara 50 juta rupiah sampai 100 juta rupiah. Bila dilakukan secara konsisten dan fokus, maka modal usaha yang kecil ini bisa berkembang menjadi beromzet miliaran rupiah’’.

Menneg BUMN juga menganjurkan, agar Hidayatullah berhasil menjadi kekuatan ekonomi baru, sesuai dengan tema Rakernas ’’Pengembangan Ekonomi sebagai Pilar Gerakan Dakwah’’, maka jangan sekali-kali Ormas Hidayatullah terjun menjadi kekuatan Partai Politik. ’’Bila ada calon Gubernur atau Walikota minta dukungan politik agar menang di dalam Pilkada, dukunglah mereka semua, agar kita tidak dipersalahkan, salah memilih kuda tunggangan’’.

Sementara itu Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, MM mengungkapkan, kekuatan Hidayatullah lahir dari sebuah ide sederhana dari seorang anak muda lajang putera Sulawesi Selatan bernama Abdullah Said (Almarhum) yang ketika itu pada tahun 1972 masih berumur 20 tahun.

’’Hidayatullah lahir dari sebuah ide, dengan modal awal nol koma nol, tidak ada sponsor baik pemerintah maupun swasta. Namun kini telah menjadi organisasi massa dengan 33 Dewan Pimpinan Wilayah dan 285 Dewan Pimpinan Daerah tingkat kabupaten/kota, dengan ratusan amal usaha berupa pesantren, sekolah, panti asuhan, media massa tingkat nasional, Unit SAR, perusahaan-perusahaan, puluhan ribu majelis taklim, ribuan tenaga da’i profesional, guru, mahasiswa, pelajar dan santri’’, kata Abdul Manan.

Diantara prestasi lain yang patut menjadi catatan, kata dia, adalah majalah Suara Hidayatullah, yang diterbitkan dengan modal awal dua juta rupiah, suatu angka yang sama sekali tak berarti untuk ukuran sebuah usaha penerbitan majalah. ’’Kini majalah ini telah menjadi salah satu majalah Islam terbesar di negeri ini, dengan oplah mencapai 85.000 eksemplar setiap bulannya, dan didukung oleh media on-line hidayatullah.com yang setiap harinya diakses tidak kurang dari 45.000 kali di seluruh dunia’’.

Walikota Samarinda Drs Mohamad Amins didampingi Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Abdul Mannan, MM di Lapangan Kampus Pesantren Hidayatullah, Jalan Perjuangan , Samarinda, Sabtu (1/12) nampak tengah menandatangani prasasti Peresmian Masjid al-Iman. Turut menyaksikan penandatanganan prasasti Menteri Negara BUMN Dr Sofyan Djalil, MA MELD, yang hadir dalam Rapat Kerja Nasional ke-3 Ormas Hidayatullah , mewakili Wakil Presiden Mohamad Yusuf Kalla yang berhalangan hadir dan Sekretaris Pemprov Kalimantan Timur Syaiful Teteng.

Kabar dari Rakernas-2

Ketua Umum DPP Hidayatullah
'Hidayatullah Harus Mandiri'
Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Minggu, 02 Desember 2007

Untuk meningkatkan profesionalisme para da'i dan guru, sepatutnya mereka mendapatkan kesejahteraan yang layak. Demikian pendapat Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, di sela-sela kesibukan acara Rakernas III Hidayatullah.

“Apakah para da’i dan guru kita harus berbisnis? Kan tidak semua orang bisa berbisnis,” tanya sebagian orang menanggapi program “Pengembangan Ekonomi sebagai Pilar Dakwah” yang dicanangkan Hidayatullah pada Rakernas III ini.

Ternyata bukan begitu maksudnya. Para da’i boleh berbisnis, tetapi tidak harus. Siapa pun, termasuk pada da’i dan guru boleh berbisnis, jika berminat dan mampu. Tak ada yang berhak melarang. Tapi kalau tak berminat dan tak mampu, jangan dipaksa atau memaksakan diri. Biarlah para da’i dan guru tetap berkhidmat pada bidang garapannya, seraya terus meningkatkan kualitas dan produktivitasnya.

Adapun mereka yang memiliki minat dan kemampuan di bidang dunia usaha, silakan pula berkiprah di sana. Raihlah laba semaksimal mungkin. Tentunya dengan jalan halal dan thayib. Dan jangan lupa, sebagian keuntungan perniagaan itu diinvestasikan di jalan dakwah. Sehingga kesejahteraan bisa dinikmati bersama, tidak cuma untuk para wirausahawan.

Bagaimana caranya? Ikuti wawancara kami dengan doktor ilmu ekonomi dari Universitas Borobudur Jakarta ini:

Apa yang harus dipersiapkan daerah dalam pencanangan pengembangan ekonomi saat ini?

Pemberdayaan ekonomi dilakukan baik secara kelembagaan maupun individu. Secara individu diperlukan profesionalisme, sementara secara kelembagaan yang diperlukan adalah regulasi tentang perekonomian lembaga. Fungsi publik, dalam hal ini DPP berperan dalam tiga hal, yaitu distribusi, stabilisasi, dan alokasi. Oleh karena itu, kita harus membangun economic environment (ekonomi berbasis kewilayahan).

Seperti apa bentuk riilnya?

DPW dan DPD harus membuat satu divisi ekonomi yang akan bertugas untuk mendeteksi potensi-potensi ekonomi di wilayah operasionalnya

Bagaimana agar program itu bisa berjalan maksimal?

Agar ini maksimal pemberdayaan ekonomi harus menjalin kerja sama dengan pemerintah dan swasta. Kita tidak akan bisa eksis tanpa melakukan kerja sama itu.

Hidayatullah sebagai ormas ketiga di Indonesia yang lahir dalam suasana pasca kemerdekaan, maka wajib mengisi kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan dalam hal ini adalah melakukan tahapan sekarang ini yaitu dengan pemberdayaan ekonomi mandiri.

Regulasi seperti apa yang sedang disiapkan?

Regulasi yang sedang disiapkan yaitu sentralisasi ekonomi. Semua aktivitas harus bernilai ekonomi. Misalnya secara individu ada infaq dan zakat, demikian juga pada perusahaan harus ada infaq dan zakat. Infaq dan zakat ini dibangun atas dasar iman dan kesadaran kemanusiaan.

Bagaimana dengan masalah kepemilikan?

Jadi dalam regulasi nanti ditetapkan, swasta diberi kebebasan namun dalam batas-batas keislaman. Lembaga juga bisa punya perusahaan, seperti dalam negara ada BUMN. Misalnya sekarang Hidayatullah punya BUMH, berupa Totalindo, Majalah Suara Hidayatullah, dll. Tetapi sahamnya di-share antara pusat dan wilayah. Ada pun secara individu, itu usaha individu. Itu diatur dengan kesadaran iman.

Ada kekhawatiran ini akan mempengaruhi kader yang sudah fokus pada garapan dakwah dan pendidikan?

Karena itu, kompensasi untuk guru dan da’i itu perlu diperbesar. Jika itu tidak dilakukan maka bisa terjadi kesenjangan sosial yang jauh antar sesama kader kita. Nanti bisa terjadi, mereka berwirausaha sangat sejahtera, sementara yang tidak berwirausaha—karena sibuk mengurus lembaga dan umat—jauh tertinggal kesejahteraannya.

Untuk menghindari kesenjangan itu, lembaganya harus kaya, sehingga bisa memberikan kompensasi yang layak aktivis atau fungsionarisnya. Sehingga mereka tidak berpikir untuk meninggalkan kerja dakwahnya, karena sibuk mengurusi bisnis.

Jadi, yang bekerja dalam bidang dakwah, tetaplah fokus dalam dakwah. Yang menjadi pendidik tetap fokus dalam pendidikan. Jadilah profesional di bidangnya masing-masing.

Bagaimana mengaplikasikan kebijakan ini dalam sebuah pedoman taktis?

Nanti dalam Rakor (Rapat Koordinasi-red) akan dibicarakan bagaimana sebuah program itu bisa terealisasikan. Insya Allah setelah ini kita akan gelar rakor untuk itu. Selain itu kita juga akan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan usaha untuk bekal mengaplikasikan di daerah.

Siapa yang membuka peluang usaha-usaha di daerah?

Antara lain akan difasilitasi oleh lembaga APHIDA (Asosiasi Pengusaha Hidayatullah). Tadi malam (30/11) sudah terjadi kesepakatan bisnis antar sesama anggota APHIDA senilai Rp 120 juta.

Apakah juga akan melibatkan pihak luar?

Jelas, ini akan melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah dan swasta. Jadi swasta yang luas. Bisnis itu kan dengan siapa pun. Ini menjadi media dakwah melalui dunia ekonomi.

Seperti apa potensi ekonomi yang sudah ada?

Sebenarnya dari segi potensi sangat besar, seperti di Propinsi Kaltim sebagai penyumbang terbesar dalam APBN. Tapi, kenapa sebagai basisnya Hidayatullah, kita tidak bisa memanfaatkan potensi ini. Pasalnya, selama ini nyalinya, nyali orsos dan nyali mubaligh yang tidak berani mengubah dunia. Ini menyalahi fitrah dan menyalahi Islam juga. Oleh karena itu nyalinya harus diubah. Kita ini khalifah. Kita ini diserahi Allah untuk mengelola alam semesta ini. Kok kita lupakan dunia ini.

Di sini modalnya harus ada ilmunya. Kita akan berikan pelatihan masalah manajerial, mikro dan makro ekonomi, termasuk dalam hal-hal keterampilan.

Apa yang diharapkan dari kemandirian ekonomi?

Yang kita harapkan nantinya kita tidak bergantung lagi kepada donatur. Ibaratnya perahu tidak bergantung kepada angin, tapi masih ada mesin. Dengan mesin perahu bisa jalan terus. Selama ini Hidayatullah, jalannya masih bergantung angin, maksudnya donatur. Baik dari tingkat bawah sampai atas.

Berapa tahun ini akan terwujud?

Itu relatif. Kalau mau bersyukur, sekarang ini kita sudah mandiri, hanya saja pada tingkat dasar. Tapi kalau mandiri total, itu membutuhkan waktu 10-20 tahun. Negara saja sudah 60 tahun belum juga mandiri, malah banyak hutangnya.* (Ahmad Damanik)

Kabar dari Rakernas-1

Sofyan Jalil Buka Rakernas III Hidayatullah di Samarinda Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 01 Desember 2007

Mengusung tema “Memperkuat Pilar Ekonomi sebagai Daya Dukung Dakwah”, Menteri BUMN buka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah III, di Samarinda

Hidayatullah.com--Menteri BUMN Sofyan Jalil direncanakan membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah III, Sabtu (1/12) siang ini di kampus Pondok Pesanten Hidayatullah Samarinda. Acara yang berlangsung 1-3 Desember 2007 ini mengusung tema, “Memperkuat Pilar Ekonomi sebagai Daya Dukung Dakwah.” Pada hari terakhir, acara ini akan ditutup oleh Menteri Koperasi Suryadhama Ali.

Beberapa pejabat daerah yang direncakan hadir adalah Pejabat Gubernur Kalimantan Timur Yurnalis Ngayoh, Walikota Samarinda Ahmad Amins dan beberapa undangan lainnya.

“Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyak kepada seluruh kabupaten kota di Kalimantan Timur yang sangat membantu dalam pelaksanaan acara ini, khususnya dari Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Samarinda,” kata Hamzah ketua Panitia Rakernas.

Rakernas yang dihadiri oleh tidak kurang 500 utusan ini merupakan rakernas ketiga dalam periode kepengurusan 2004-2009. Rakernas pertama dilaksanakan di Surabaya (2005), sedangkan yang kedua di Makassar (2006). Sejak kemarin peserta sudah berdatangan dari berbagai pelosok di Indonesia. Mereka adalah pengurus, guru dan dai yang sebagian besar bertugas di daerah terpencil.

Selama berlangsungnya rakernas ini, peserta menginap di Asrama Atlet dalam kompleks gelanggang olahraga (GOR) Sempaja. Sedangkan pertemuan dilakukan di Pusdiklat GOR Sempaja.

Untuk kepentingan informasi, selama berlangsung rakernas ini panitia menerbitkan tabloid rakernas yang disebarkan ke peserta setiap harinya. "Insya Allah, sebelum sarapan pagi, tabloid sudah beredar," kata Ketua Humas Panitia, Haryono Madari.

Acara ini juga disiarkan oleh sembilan radio yang merupakan radio partner dari radio Mitra, sebuah radio yang dikelola oleh Hidayatullah.

Isu Ekonomi

Hidayatullah merupakan ormas Islam yang didirikan pada tahun 1972 di Balikpapan Kalimantan Timur. Saat ini berfokus pda bidang pendidikan berupa sekolah integral dan pesantren serta dakwah di kawasan terpencil.

Sebagaimana diketahui bahwa selain dikenal sebagai lembaga dakwah, sesungguhnya Hidayatullah telah banyak memiliki kegiatan ekonomi. Penguatan Ekonomi Lembaga Hidayatullah menjadi isu utama dalam rakernas ini. Menurut Hasan Ibrahim, bendahara Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah aktivitas ekonomi Hidayatullah ada yang berbentuk perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas, koperasi maupun perorangan.

Beberapa perusahaan yang dikelola Hidayatullah adalah PT. Lentera Jaya Abadi yang memiliki bisnis inti di bidang media, meliputi majalah Suara Hidayatullah, percetakan di Surabaya, radio, cyberspace, distribusi periklanan dan lain-lain. PT Totalindo Telematika merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi (TI), berupa supplyer hardware dan system integrated. Bahkan perusahaan ini sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan di luar negeri.*(HAR/SHW/Hidayatullah.com)

2007/11/05

Baitulmaal Muamalat Gandeng Hidayatullah Purwakarta

HIDAYATULLAH-NEWS (Purwakarta) : Bank Muamalat Indonesia (BMI) melalui Lembaga Amil Zakat-nya, Baitulmaal Muamalat (BMM) memberikan bantuan pendidikan dan dana pembangunan kepada Pesantren Hidayatullah Purwakarta Kamis (1/11). Tampak dalam gambar (dari Kanan ke Kiri): Perintis Hidayatullah Purwakarta Ustadz Zaini, Ketua Umum DPW Hidayatatullah Jawa Barat, Pembina Hidayatullah Purwakarta Ustadz Anton Al Jundi, Pembina Hidayatullah Purwakarta Dr Ifran, General manager BMM Ari Januar dan Kabag Pendayagunaan BMM Yusep Iskandar.

Pada kesempatan itu, Ari menjelaskan bahwa BMM sangat berminat untuk menggalang kerja sama program pemberdayaan ekonomi umat dengan Pesantren Hidayatullah Purwakarta. Selama ini, jelas Ari, BMM akan terus berupaya agar umat berdaya secara ekonomi. BMM kini mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis Masjid di seluruh Indonesia.(Gun)

2007/09/21

PNM Ajak Kerja Sama Hidayatullah Purwakarta

PURWAKARTA (Hidayatullah): Permodalan Nasional Madani (PNM) bakal menggalang kerja sama dengan Pesantren Hidayatullah Purwakarta. ''Kita insya allah akan memberi hibah dalam bentuk Komputer dan kerja sama pembiayaan dengan BMT Hidayatullah,'' tegas M Iqbal dari PNM saat berkunjung ke kampus Hidayatullah Purwakarta di lembah Cigelam Purwakarta, Kamis (21/9) lalu.

Dalam kunjungannya yang di dampingi staf PNM bagian kerja sama kelembagaan Dika, Iqbal dan Tim sempat meninjau berbagai program pertanian yang sedang dikembangkan pesantren. Saat berkunjung ke lahan pesantren yang sedang ditanami ikan dan mentimun, Iqbal menyatakan,''Kami salut dengan semangat kemandirian pesantren,'' katanya.

Dalam penjelasannya, Iqbal menyatakan, PNM membuka diri untuk bekerja sama pembiayaan. ''Tapi pembiayaan itu harus melalui Koperasi atau BMT,'' ujarnya.

PNM dalam kunjungannya itu menawarkan berbagai program. Seperti Mini Mart berbasis syariah, Pendampingan untuk penyehatan BMT, berbagai fasilitas pembiayaan dan permodalan. ''Kami senang bisa bersilaturahmi ke Hidayatullah. Insya Allah kerja sama ini akan kita lanjutkan agar bisa segera terealisir,'' jelas Iqbal.

Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Barat Anton Al Jundi, yang hadir dalam pertemuan itu meminta agar kerja sama ini bisa kongkrit dan produktif. ''Kita harus bersyukur karena PNM sudah menyatakan bersedia untuk bekerja sama dengan Hidayatullah Purwakarta,'' ujarnya.

Kedua belah pihak, akhir bersepakat untuk melanjutkan kerja sama ini dan untuk menindaklanjuti kunjungan PNM ini agar menjadi model kerja sama yang produktif. (guntoro)

Hidayatullah Purwakarta Mendirikan BMT

PURWAKARTA (Hidayatullah) : Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah Purwakarta, Rabu (19/9) malam memutuskan untuk mendirikan Baitulmaal Wat Tamwil (BMT). Keputusan juga diamini oleh pengurus Yayasan Al Fatihah. Rapat memutuskan sebutan 'BMT Hidayatullah' sebagai nama resmi BMT.

Terpilih sebagai Ketua Adalah ustad Shihab, sekretaris Husni dan bendahara bpk Tarman. Sebagai penasehat BMT antara lain Dr Sudradjat, Drg Arif, Guntoro Soewarno.

Dalam penjelasannya, Ustadz Mizan, Ketua DPD Hidayatullah Purwakarta menyatakan, kehadiran BMT Hidayatullah bertujuan untuk memberdayakan ekonomi jamaah dan masyarakat sekitar pesantren. ''Mudah-mudahan perekonomian ummat bisa terangkat,'' ujar Mizan.

Modal awal BMT Hidayatullah terkumpul Rp20 juta. Modal ini berasal dari 20 orang pendiri BMT Hidayatullah yang masing-masing memberikan saham kepada BMT Rp1 juta per orang.

Selamat berkarya ustad Shihab. (Guntoro)

2007/08/14

Inilah Lembah Cigelam, Kampus Kami







Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Inilah wilayah kami. Kampus Hidayatullah Purwakarta di Lembah Cigelam. Kami memang akan terus mendedikasikan diri untuk kemajuan ummat di lingkungan Kami, dengan terus berkarya.

Penjelasan Gambar dari atas ke bawah. 1. Lahan yang akan kami bebaskan seluas 2 hektare. 2. jalan masuk yang masih berkalang tanah. 3. Rumah Ustadz Mizan. 4. Masjid yang masih setengah jadi.